Tampilkan postingan dengan label skill and capacity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skill and capacity. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

Next Tausiyah

Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus-meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan

Lan tarji' ayyamulati madhat. Tak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.

Kamis, 27 Januari 2011

Kami Penuhi

"Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat............."
(QS 9:41)
Ya Rabb, kami penuhi panggilanMu untuk berjihad ilmiy, fii sabilillah...
Ridhoilah...

Karena kami tidak diam, seluruh anggota badan kami bekerja...

Minggu, 16 Januari 2011

What Money Can Buy

Money can buy a house, but not a home.
Money can buy a bed, but not sleep.
Money can buy a clock, but not time.
Money can buy a book, but not knowledge.
Money can buy food, but not an appetite.
Money can buy position, but not respect.
Money can buy blood, but not life.
Money can buy medicine, but not health.
Money can buy sex, but not love.
Money can buy insurance, but not safety.

Selasa, 04 Januari 2011

Cerita Ombak

Kisah ini adalah tentang sebuah gelombang kecil, yang asyik bermain enjot-enjotan di tengah lautan, naik turun, berayun, seolah-olah tak akan berakhir. Begitu senangnya ia menikmati angin dan udara segar yang bertiup sepoi-sepoi. Sampai ketika pada suatu saat ia menyaksikan gelombang-gelombang lain di depannya, pecah, terhempas berhamburan begitu saja di tepi pantai.

"Ya Tuhan, mengerikan sekali!" kata gelombang itu, yang kini sudah besar.
"Lihat! Akan seperti itukah nasibku nanti?"

Sebuah gelombang lain berada di dekatnya melihat kemurungan di wajah gelombang yang pertama, maka ia bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tampak begitu sedih?"

Gelombang yang pertama menyahut, "Engkau tidak mengerti! Kita semua akan hancur berantakan! Semua elombang seperti kita akan lenyap tanpa bekas! Tidakkah itu mengerikan?"

Gelombang yang kedua berkata, "Sebaliknya, justru engkau yang belum mengerti. Engkau bukan hanya gelombang, engkau bagian dari lautan itu sendiri."

Bagian dari lautan itu sendiri...

Minggu, 26 Desember 2010

Bukan Hanya Tentang Sepakbola

Di balik rasa sebel saya terhadap permainan final yang "kotor" hari ini, saya mencoba memandang dari perspektif lain...
"Terima kasih Malaysia sudah memberikan pelajaran penting bagi Indonesia.. Suatu keberhasilan tidak akan bisa diperoleh secara instan.. Kalian sudah lama bermain sebagai kesatuan tim sejak usia muda.. Indonesia tirulah Malaysia dalam hal pembinaan pemain muda!" 
Begitu tulis D.A, salah seorang aktivis mahasiswa skala nasional.
Ya, saudaraku, katamu itu benar adanya. Dan tentang kesatuan tim dan pembinaan 'pemain' muda... Tentu kau tak hanya bicara tentang aksi di lapangan kan? Juga bukan hanya tentang 'pemain' sepakbola.
Ya, saudaraku, pembinaan sedari dini, seperti katamu... Tentang kesatuan visi, serta pembangunan mental dan karakter generasi muda perekonstruksi bangsa.
Yang lurus akidahnya
Yang benar ibadahnya
Yang kokoh akhlaknya
Yang kuat jasadnya
Yang cerdas fikirnya
Yang senantiasa berjuang melawan hawa nafsunya
Yang produktif waktunya
Yang teratur urusannya
Yang mandiri hidupnya
Yang membawa kemanfaatan sebesar-besarnya

Memang begitulah proses pembinaan
Meskipun sulit tapi hasilnya pasti
Meskipun panjang tapi terjaga kemurnianya
Meskipun lambat tapi terjamin hasilnya

Sedikit Nasehat

Sedikit nasehat di tengah-tengah masa persiapan Semiloka:
  1. Belum mencoba, atau baru mulai mencoba? Pilihannya ada dua kan? Sukses atau gagal. Tapi kegagalan pun hanya jarak antara harapan dan kenyataan
  2. Ketulusan adalah bahasa rasa yang menjelma dalam laku mesra. Bukan janji yang ia sampaikan, namun bilangan amal terbaik bukti kesungguhan. Ia terus membunga lagi mengharumkan meski menghadapi jelaga kehidupan
  3. Kemenangan adalah sesuatu yang nyata. Ia membersamai usaha dan kepasrahan yang optimis pada Sang Pencipta. Tak ada yang sulit ketika kita serahkan keputusan pada Yang Maha Kuasa. Susuri jalanNya dengan laku terbaik, tetap setia pada pesan kemuliaan. Maka nantikanlah kebahagiaan di akhir perjalanan

Senin, 20 Desember 2010

Inspiratif...

Liat2 fb mami (mba Desty), ada notenya yang berjudul Kembalinya Sang Bunga. Personally, I was so impressed by that note. For me, someone who has passion  to create more work is the one who will give their best contribution for civilization.
And more... ada komen bagus dari kak Cahyo,

-temen saya pernah bilang begini : "Bagi tiap muslim karya tak boleh kan berjeda. Karena sejarah tersusun oleh karya-karya yang mengubah. Dan karya-karya pula lah yang akan menjadi saksi. Sejauh mana kontribusi diri agar Islam senantiasa meninggi. Maka berkaryalah dan kau kan ditera sejarah….!".. Yuks semanagtz lagi berkarya dalam bentuk apapun yang kau bisa ^^-

Yup, agreeeeeeeeeeeeeeeeee...
Yuk kembali berkarya Cipz!

Rabu, 24 November 2010

Belajar Bagi Waktu (Versi Bener)

Hmm... Terinspirasi dari sahabatku yang juga seorang 'pemimpin'. Dia ini...pemimpin yang bisa membawa organisasi yang dipimpinnya menduduki tangga kesuksesan tingkat atas. Intinya, banyak pencapaian yang diperoleh organisasinya selama masa jabatannya.
Tapi...di akhir pengurusan dia menangis padaku dan mengadu, "Bingung...gak tau lagi nih. Penerus-penerus di organisasi gue gak terlalu bisa diharapkan. Gue khawatir ngelepas mereka, tapi gue juga gak mungkin tinggal di situ terus..."
Nah lho....

Hmm... Aku juga pernah mengalaminya sih. Takut, bener2 takut rasanya memikirkan hal ini. Tapi sebaliknya, aku juga pernah mendapati kondisi organisasi yang krisis kepemimpinan, bahkan, aku pernah mengalami kondisi mendapat 'warisan' kondisi organisasi yang banyak masalah. Aku tau gimana rempong dan riweuhnya...

Pada kondisi yang disebutkan terakhir, wajar jika dalam satu periode kepengurusan setelah diwarisi timbunan masalah itu, tak banyak prestasi yang bisa ditorehkan dalam suatu organisasi, Namuan akan menjadi uar biasa apabila jika setelah mengalami masa-masa ini, pemmpin suatu organisasi dapat mewariskan suatu kondisi yang memungkinkan terciptanya iklim yang mendukung terwujudnya pencapaian berkelanjutan bagi organisasi yang dimaksud.

So, inti dari tulisan ini sebenarnya adalah tentang pencapaian dan kaderisasi. Ah bukan, pencapaian vs kaderisasi. Pembaca pasti sepakat bahwa keduanya penting. Namun jika terpaksa diminta memilih mana yang lebih penting, saya akan memilih kaderisasi.

Sebenarnya, kedua hal di atas bisa disinergikan lho Beneran! Jika pemimpin bisa membagi waktu dengan baik dalam satu periode kepengurusannya, kapan dia harus action dan meraih pencapaian optimal, kapan dia harus benar-benar fokus meng-kader. Well anyway, proses kaderisasi sendiri faktanya memang tidak instan, butuh waktu lama dan proses bertahap, bahkan mungkin memerlukan waktu sepanjang masa kepengurusan.

Maka melihat fakta ini yang diperkuat dengan contoh kasus di atas, saya merekomendasikan: Jika organisasi Anda dalam keadaan krisis, perkuatlah kaderisasi. Ya, tak apalah jika untuk sementara kita tidak memaksakan diri melaksanakan berjuta program yang "wah" tapi kondisi kaderisasi berantakan.

*udah dulu ah, ngantuk, masih banyak yg pengen ditulis karena ini masih terlalu implisit, to be continued lah...

Senin, 22 November 2010

Belajar Bagi Waktu

Alhamdulillah...
Cuma bisa bilang ini...
Ngerasa banget, kurang optimal di himit tahun ini.
Efek perampingan organisasi sampai harus jadi sekretaris single fighter-kah?
Trus kelewat terkonsentrasi pada tugs-tugas administratif? Apalagi pakai sistem DIPA nan rempong itu?

Yaa...harusnya aku bisa berbuat lebih.
Tapi tetep, alhamdulillah...
Alhamdulillah selalu bisa mendamppingi temen-temen pengurus dan panitia dalam acara besar maupun acara internal himit...
Alhamdulillah ga pernah telat liqo meskipun jadwalnya bareng sama acara-acara himit...
Alhamdulillah...
Sudah mau lengser nih, ga kerasa.
Semoga bisa berkontribusi lebih banyak
Menyelam lebih dalam
Menyentuh lebih lembut
Karena yang dilakukan dengan hati akan sampai ke hati...
Bismillah...

Sabtu, 20 November 2010

Belajar Bertahan

Belajar bertahan atas ketaatan
Belajar bertahan yang dilandasi ketahanan
Belajar bertahan karena ada keikhlasan
Karena sungguh, ikhlas letaknya pada pukulan pertama

Dan pembelajaran ini bukanlah untuk menjadi tahu dari yang awalnya tidak tahu
Atau  untuk menjadi faham dari yang awalnyakurang faham
Karena sebenarnya tahu, dan sudah faham

Pembelajaran ini adalah untuk menjadi lebih taat atas dasar faham
Pembelajaran untuk konsisten dalam amal-amal yang ikhlas
Maka benar, pembelajaran ini tak ternilai harganya

Sabtu, 13 November 2010

Menjemput Takdir Kepahlawanan

Judul yang impressive!

Ya begitulah, momentum kepahlawanan meman bukan untuk ditunggu, tapi diciptakan. Dan momentum itu sangat mungkin akan muncul di tengah jalan yang panjang, sepi, dan banyak rintangannya...

Tapi bukankah pahlawan memang seorang yang kuat, bahkan untuk menghadapi semua rintangan itu? Kuat jasadiyah, fikriyah, dan yang paling penting, ruhiyah... Lebih dari itu, pahlawan juga seorang yang ikhlas...
Maka kukatakan, "Aku siap menjemput takdir kepahlawanan itu. Bukan takdir kepahlawananku, tapi takdir kepahlawanan kolektif."
Dan prasyarat untuk berkata SIAP adalah kesanggupan untuk belajar jauh lebih cepat, jauh lebih keras, jauh lebih efektif, serta keteguhan untuk bertahan lebih lama atas segala lelah, berjuang melawan segala egoisme dan rasa malas...

Pun hari ini, kembali aku tertegun mendengar takdir kepahlawanan Jenderal Sudirman: indah, impresif, memukau! Bahwa di tengah kondisi paru-paru yang semakin tak kuat menampung udara, beliau mampu naik-turun gunung, merebut ibukota Yogyakarta untuk menunjukkan eksistensi Indonesia pada dunia, bahwa secara de facto bangsa ini masih ada, bahwa bangsa ini belum tertumpas mati, bangsa ini masih hidup dan tak mau terjajah, bangsa ini masih akan mewujudkan cita-cita kemerdekaannya...
Dan beliau mengajarkan pula tentang arti pentingnya menjaga ruhiyah, bahwa tiap Subuh beliau selalu minta diantar ke kampung untuk mendirikan sholat berjamaah bersama warga, untuk menyemangati bangsa ini bahwa mereka masih hendakbangkit, tak mau terkubur hidup-hidup begitu saja, dan terleebih, untuk menjaga kedekatannya dengan Sang Pencipta...

Sejarah mencatat nama beliau sebagai pahlawan. Coba lihat, nama dan kisah perjuangan beliau hidup hingga saat ini, 60 tahun setelah beliau meninggal. Bahkan akan hidup lebih lama lagi, mungkin hingga ratusan tahun nanti.
Sebab takdir seorang pahlawan memang tak pernah mati.
Jika ada yang mati, itu hanya jasadnya. Jika ada yang mati, pasti bukan semangat perjuangan dan kontribusinya yang terus menyala.

Maka kembali, apakah takdir seorang pahlawan itu ada di dalam takdir kita? Maka tak maukah segera bersiap? Masih enggankah menjemput takdir kepahlawanan itu?

Sudah kucukupkan dalam dua tahun yang berantakan.
Sudah kuperangi segala bentuk hawa nafsu, perasaan yang senantiasa berkecamuk, dan segala bentuk keengganan, juga kemalasan...
Dalam dua puluh empat purnama yang berantakan, kusyukuri segala keadaan.

Namun hari ini, detik ini, kumulai awal yang baru
Karena waktu-waktu yang berlalu, tak pernah tercenung dalam bisu
Ia berderak, bergerak, menghentak
Dan aku tak mau ditinggalkan waktu.
Sudah cukup dua puluh empat purnama tersia-siakan
Aku tak keberatan meski harus lebih lama menahan
Sesak, menahan perasaan yang terus berantakan
Tapi akupun ingat, manakala aku mulai berantakan, aku tetap akan kuat
Karena aku punya sumber dari segala sumber kekuatan
Laa hawla wa laa quwwata illaa billah

Sudah cukup pula air mata itu
Terlalu berharga untuk hal yang biasa saja
Kalau aku menangis, cukup semalam saja,
Karena esoknya, aku akan kembali tegar
Tak ada waktu untuk berlama-lama dengan air mata
Selelah apapun, seberantakan apapun

Selasa, 09 November 2010

Menjadi Lebih Kuat

Akar yang kuat akan mampu menunjang kehidupan pohon yang kokoh pula. Kalau akar lemah, sebatang pohon tak akan mampu tumbuh tinggi apalagi menjulang. Maka jadilah akar yang kuat menopang.
Lihat konten kebutuhan orang di sekitarmu, banyak yang harus menjadi lebih kuat dan dikuatkan. Maka kau sendiri pun harus jadi lebih kuat.
Dan tentang menjadi kuat untuk yang satu ini…

TIDAK MEMINTA NAMUN JUGA TIDAK MENOLAKNYA. TITIK.
Adalah tentang bagaimana kita bisa benar-benar ikhlas, bahwa ikhlas adalah seperti angin yang mengalir begitu saja.
Sami’na wa atho’na…
Berat, kadang bahkan merasa sepertinya tak akan mampu, tapi… coba pikir lagi apa kau benar2 tidak mampu?
Oh ayolah, tak perlu memandang rendah dirimu sendiri! Aku akan mengajakmu berpikir lagi, coba tanyakan pada dirimu,
“Apakah jika dipegang oleh orang lain, kondisinya akan lebih baik?”
Maka mari jalani saja dengan niat yang lurus, tekad yang senantiasa teguh, senyum yang tak akan luruh sambil terus berupaya meng-upgrade kapasitas diri, agar bisa meng-upgrade yang lain-lain. Bukankah ini lebih bermakna?
Lalu jika kau merasa mulai lemah dan ingin menangis karena kecengenganmu, kuberitahu kau, “Menangis itu tidak sopan, dan terlebih, tidak ada waktu untuk air mata, kecuali air mata untuk menangisi dosa-dosamu, menangis karena takut kepada Allah, menangis karena syukur kepada Allah, dan hanya bentuk tangisan karena Allah…”

Meski harus kuaiku, akupun pernah menangisi dua tahun yang berantakan
Dua tahun yang menurut sebagian besar orang penuh pencapaian
yang bahkan tak dapat mereka taklukkan


Tapi bagiku, itu berarti dua tahun yang penuh perjuangan
Perjuangan untuk bertahan
Ketika untuk menyerang pun tak ada kekuatan


Dua tahunyang berantakan
Ada yang tak bisa faham
Dan tak mengerti mengapa kini aku ingin diam
Hanya ingin diam
Tolong jangan tanyakan
Karena aku sangat ingin diamMeski dalam diam pun tersimpan sejuta pesan
Baca saja sendiri, aku tak ingin mengatakan

Untuk apa kukatakan
jika pada akhirnya hanya dilupakan?
Aku benci dilupakan
Dan kebencian itu mendasar
Hingga aku pun tak bisa lupa

Kamis, 04 November 2010

competensia, conscientia, compassio

competensia: berdisiplin tinggi, teliti, dan konsisten pada mutu
conscientia: memiliki tanggung jawab moral
compassio: memiliki kepedulian pada orang kecil dan cinta kasih


*on progress, to be continued

Selasa, 02 November 2010

Oh Negeriku

Oh negeriku... Negeri cintaku
Slalu ada dalam hatiku...
Cinta negeriku ...
Kau bangkitkan semangat hidup selalu...
O...o...o...o...


Duhai negeriku, ada satu keinginan dariku
yaitu meminta maaf padamu

Maaf, sampai usia ini belum banyak hal kulakukan untukmu
Jangankan perbaikan, kebanggaan saja belum seberapa...

Bukan, bukan aku tak bangga padamu
Hanya aku belum menemukan caranya
Maaf, manifestasi cintaku untukmu sungguh belum sempurna

Wahai negeri cintaku,
semua orang menanti kebangkitanmu
begitu pula aku...
Tapi belum banyak hal kulakukan untuk menopangmu teguh

Duhai negeriku,
Aku tak banyak bedanya dengan mereka,
Saat melihat kotoran, aku pilih menjauh,
mencari yang lebih bersih,
tak mau repot-repot membersihkan kotoran itu.

Memang masih senaif itulah diriku

Tapi negeriku,
biarkan cintaku tetap hidup, tumbuh, tulus untukmu,
hingga masanya menjadi ranum dan berbuah kontribusi untukmu
Hingga masanya dengan sepenuh kesadaran aku mencoba
Lebih memahamimu, lebih ikhlas merawatmu
Meski sekotor apapun kondisimu

Rabu, 27 Oktober 2010

Nulis Lagi...


"Nulis itu gak ada teorinya. Semua gak lebih dari sebuah paragraf pertama, diawali kalimat pertama, diinisiasi dari satu kata pertama, dan gak lebih dari hasil induksi huruf pertama"
Menulis adalah proses ekstraksi dari sesuatu yang telah sekian detik atau bahkan sekian tahun mengendap dalam lokus pikiran...

Maka benarlah ketika Toer berkata bahwa "Menulis adalah bekerja untuk keabadian" dan benar pula pepatah Romawi yang menyatakan "verba valent, scripta manent"

Tulisan adalah bangunan epistemis, menulis berarti membangun jembatan pengetahuan antar masa, atau paling tidak, menciptakan bukti otentik dari sebuah pemikiran yang sempat terlintas.

Sabtu, 23 Oktober 2010

HATI


"Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersama dengannya ketika ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam hatinya, Aku pun ingat pula kepadanya dalam hati-Ku. Dan jika ia ingat kepada-Ku dalam lingkungan khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekat pula kepadanya sehasta. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari."
(HQR. Syaikhani dan Turmudzi)


Wahai Hati, jujurlah...
Kalau engkau tak sanggup menjadi cemara yang kokoh di puncak bukit ...
jadilah saja belukar yang teguh di tepi jurang...
Belukar itu senantiasa istiqomah dalam perjuangannya untuk hidup.
Ia belajar dari kesehariannya untuk mendewasakan batangnya,
batangnya yang menyanggahnya untuk tidak masuk ke dalam jurang...

Wahai Hati, ketahuilah!!!
Ternyata untuk menjadi belukar saja itu tidak mudah!!!
Belukar harus ikhlas agar ia tak iri pada cemara...
Belukar harus tawadhu agar ia tak sombong pada rumput...
Belukar tetap belukar sampai ia bisa berjumpa dengan Penciptanya...

Wahai Hati, sadarlah!!!
Kalau engkau tak sanggup jadi belukar... jadilah Rumput saja….!
tetapi Rumput yang senantiasa memperkuat pinggiran jalan...

Wahai Hati, ingatlah !!!
Kalau engkau tak sanggup menjadi langit... Jadilah Bumi saja !!!
tetapi Bumi yang setia dan ikhlas untuk dipijaki oleh setiap manusia.
Tidak semua insan sanggup berbuat seperti pengemis yang tawadhu',...
izzahnya tinggi walau orang lain merendahkannya...
karena ia mempunyai HATI sehingga dekat dengan sang Robbil Alamiin.


Allah berfirman dalam Hadist Qudsi :
"Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersama dengannya ketika ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam hatinya, Aku pun ingat pula kepadanya dalam hati-Ku. Dan jika ia ingat kepada-Ku dalam lingkungan khalayak ramai, niscaya Aku pun ingat kepadanya lingkungan khalayak ramai yang lebih baik. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekat pula kepadanya sehasta. Dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari."
(HQR. Syaikhani dan Turmudzi)


Oleh karena itu....
Perhatikanlah hatimu karena ia akan menjadi fikiranmu..
Perhatikanlah fikiranmu karena ia akan menjadi perkataanmu..
Perhatikanlah perkataanmu karena ia akan menjadi perbuatanmu..
Perhatikanlah perbuatanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu..
Perhatikanlah kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu...
Dan Perhatikanlah karaktermu karena ia akan menjadi lintasan hatimu.

InsyaALLAH....

last Words !

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya" (QS. Al-Israa':36)

believe there's a hero in all of us, that keeps us honest, gives us strength, makes us noble, and finally allows us to die with pride, even though sometimes we have to be steady, and give up the thing we want the most. Even our dreams.

*ga tau sourcenya

Mahasiswa Cerdas, Masyarakat Mandiri Pangan


Manusia bukan tumbuhan yang memiliki klorofil untuk berfotosintesis. Perjalanan hidup manusia tak dapat dipisahkan dari kebutuhan akan pangan. Meski demikian, wacana “pangan sebagai hak asasi manusia” pada akhirnya hanya menjadi sebuah dialektika. Sebab jika pangan menjadi hak asasi, artinya setiap individu berhak memerolehnya secara cuma-cuma, tak akan ada lagi industri yang bergerak di bidang pangan sehingga hal ini tentu saja akan menimbulkan kerugian tak terhingga bagi praktisi industri pangan. Maka hingga hari ini, pangan tetap menjadi komoditas komersil. Sayangnya, banyak masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang masih mengalami berbagai permasalahan pangan. Bagi mereka, mungkin keamanan pangan adalah faktor nomor sekian yang akan dipertimbangkan dalam memilih makanan, karena bahkan memenuhi standar kecukupan jumlah pangan pun masih sulit.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa “Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau”. Istilah “rumah tangga” dalam undang-undang ini tentu saja dimaksudkan untuk merepresentasikan individu-individu yang terdapat di dalamnya. Undang-undang ini pun menyatakan bahwa istilah “pangan yang cukup” tidak hanya mengacu pada jumlahnya, tetapi juga mutu, keamanan, dan keterjangkauannya oleh masyarakat. Artinya, melalui undang-undang ini sebenarnya pemerintah berusaha menjamin kecukupan pangan masyarakatnya.

Lalu mengapa masih banyak kasus kelaparan maupun malnutrisi di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya pada skala ekonomi menengah ke bawah? Padahal berbagai program subsidi pangan telah dijalankan, minimal masyarakat miskin dapat merasakan program raskin (beras untuk rakyat miskin) setiap bulannya? Jawabannya adalah, karena konsepsi ketahanan pangan itu sendiri belum terwujud di negara kita. Ironisnya, upaya mewujudkan ketahanan pangan ini seolah jalan di tempat. Mengapa? Karena hanya segelintir orang yang benar-benar memerhatikannya.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana menyukseskan upaya mewujudkan ketahanan pangan ini sehingga dengan pangan yang cukup, aman, dan bermutu, dapat mengentaskan masyarakat dari bahaya kelaparan dan malnutrisi?” Tentu saja hal ini akan menuntut sinergi peran dari banyak pihak, pemerintah, masyarakat umum, akademisi, bahkan pihak-pihak swasta. Maka pertanyaan terpentingnya adalah, “Sebagai mahasiswa, apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa ini?”

Mahasiswa adalah kalangan yang dianggap sebagai kaum intelektual oleh masyarakat. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan yang diambil mahasiswa untuk berkontribusi dalam membantu mengatasi permasalahan pangan bangsa ini tentunya harus berdasarkan keilmuan dan pemikiran yang logis. Mahasiswa dapat mengkritisi kebijakan pemerintah manakala sikap kritis itu dapat menjadi pertimbangan untuk merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan mengkaji, “Apakah program raskin cukup dapat membantu masyarakat miskin memenuhi kebutuhan pangannya? Bagaimana mereka bisa mendapatkan bahan pangan pokok lainnya? Apakah kandungan raskin cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka sehingga peluang malnutrisi dapat diminimalkan? Kalau tidak, bgaaimana seharusnya kebijakan yang dibuat?” Jawaban dari pertanyaan terakhir haruslah solutif.

Lebih dari sekadar mengkritisi kebijakan, mahasiswa harus lebih membuktikan dengan tindakan nyata, misalnya dengan belajar ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pangan dan gizi. Ilmu-ilmu yang dipelajari ini tentu saja tidak akan terlalu bermanfaat jika belum ditransformasi dalam tindakan-tindakan nyata membantu masyarakat. Dengan memanfaatkan ilmu-ilmu pangan, mahasiswa dapat memberi pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat di daerah-daerah rawan kelaparan dan malnutrisi untuk memanfaatkan potensi sumber daya pangan apapun yang terdapat di daerah-daerah tersebut menjadi bentuk pangan yang lebih bergizi dan memiliki nilai tambah. Hal ini dalam jangka pendek akan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan yang cukup dan bergizi dalam skala kecil, yaitu skala masyarakat itu sendiri. Dalam jangka panjang, mahasiswa dapat membantu masyarakat membangun kemandirian usaha berbasis pangan loksal yang pada gilirannya juga dapat membantu mewujudkan ketahanan pangan nasional. Penulis yakiin, kegiatan-kegiatan mahasiswa semacam ini akan banyak mendapat dukungan, baik dari pihak universitas, pemerintah, maupun organisasi-organisasi swasta yang peduli pada kondisi pangan bangsa.

Jika hal ini dilakukan di banyak tempat, proyeksi berhasilnya program akan jauh lebih besar, namun sebelumnya diperlukan model pengembangan di beberapa tempat terlebih dahulu. Tidak hanya mahasiswa pangan dan gizi yang dapat melakukan hal ini, mahasiswa dengan basis bidang keilmuan lain pun dapat membantu asalkan mau sedikit mempelajari ilmunya. Tak akan terlalu rumit, hanya butuh niat yang lurus dan tekad yang utuh serta usaha yang konsisten.

Mari berjuang secara cerdas untuk wujudkan kejayaan pangan bangsa. Hidup mahasiswa!!! Hidup pangan Indonesia!!!

My President, My Hero


Indonesia butuh Gatot Kaca!”
Ungkapan tersebut adalah tulisan yang terbaca pada kaos oblong bertema nasionalisme yang diproduksi dan dipasarkan oleh sekelompok mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ungkapan ini senada dengan quote Bertolt Brecht yang cukup terkenal, yaitu Unhappy the land that is in need of heroes”. Mencermati kedua ungkapan di atas, rasanya kita kembali diingatkan pada kondisi negara kita yang telah lebih dari satu dasawarsa mengalami guncangan dalam berbagai hal, tak terkecuali kepemimpinan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika pemerintahan yang tidak stabil. Pada tahun 1998 hingga 2004, tercatat Indonesia memiliki tiga orang Presiden, hanya dalam kurun waktu enam tahun.
Ya, kita butuh pemimpin yang juga pahlawan!
Pasca runtuhnya rezim Orde Baru Soeharto, tampuk kepemimpinan bangsa Indonesia mengalami kegoyahan luar biasa. Praktek kepemimpinan diktatorial dan korupsi terselubung selama tiga puluh dua tahun perlahan terurai beberapa bagiannya sehingga menimbulkan reaksi kebencian masyarakat. Bahkan, pemuda dan mahasiswa tak jarang melakukan aksi frontal. Tak hanya itu, Orde Reformasi yang menggantikan Orde Baru tidak mendapat cukup mendapatkan trust dari masyarakat bangsa ini sehingga berakibat pada minimnya public respect terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.
Faktanya dapat dilihat dari singkatnya masa jabatan Presiden pada tahun 1998 sampai 2004. Setelah Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, kursi Presiden diambil alih oleh B. J. Habibie hingga 20 Oktober 1999. Kemudian melalui Pemilu 1999, jabatan Presiden Republik Indonesia dipegang oleh K.H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Masa pemerintahan beliau pun tak genap lima tahun, pada 23 Juli 2001, beliau digantikan oleh Megawati Soekarnoputri hingga 20 Oktober 2004. Megawati kembali mencalonkan diri menjadi Presiden Indonesia pada Pemilu 2004, namun kalah oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang masih menjadi presiden Indonesia hingga kini sebab beliau kembali terpilih menjadi Presiden RI melalui Pemilu 2009.
Di antara keempat Presiden yang disebut terakhir, masa jabatan Presiden SBY terhitung paling lama. Presiden Habibie hanya menjabat selama satu tahun lima bulan. Gus Dur pun hanya menjabat kurang dari dua tahun karena mandatnya dicabut oleh MPR. Megawati menjabat selama tiga tahun tiga bulan.
Singkatnya masa jabatan Presiden Indonesia pada awal bergulirnya Orde Reformasi adalah akibat rendahnya kepercayaan masyarakat kepada Presiden dan kabinet bentukannya. Pemerintahan pada masa itu dinilai tidak dapat menjadi solusi atas permasalahan-permasalahan yang menimpa bangsa ini. Pemimpin tidak mampu menunjukkan kapabilitasnya untuk mengatasi permasalahan secara taktis dan strategis. Publik menilai rendahnya kredibilitas maupun integritas pemimpinnya. Ini menandakan bahwa pemimpin tertinggi bangsa ini tidak mampu menciptakan trust dari konstituen utamanya, yaitu masyarakat. Bahkan, kepemimpinan Presiden SBY yang bertahan cukup lama hingga saat ini pun tidak dapat menciptakan kepercayaan publik secara menyeluruh.
            “Mereka hanya bisa berjanji, tapi tak ada bukti!” keluh masyarakat.
            Maka, pahlawan yang dibutuhkan bangsa ini adalah pemimpin strategis dengan gaya kepemimpinan efektif. Lalu apa yang disebut dengan kepemimpinan yang efektif?
            Peter F. Drucker, menyatakan bahwa pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah memikirkan visi dan misi organisasi, mendefinisikannya, dan menegakkannya secara jelas dan nyata. Lebih lanjut, beliau menyatakan bahwa pemimpin efektif bukanlah pengkhotbah, mereka adalah pelaku.     
Artinya, pemimpin yang efektif bagi bangsa ini adalah pemimpin yang dapat menentukan arah, ke mana bangsa ini dibawa. Jika bangsa dan negara ini diibaratkan sebagai sebuah kapal, maka pemimpin adalah nahkoda. Hal ini tidak hanya berlaku bagi sebuah negara, tetapi juga bagi semua lembaga sampai organisasi terkecil yang berada di dalamnya. Sebab, eksisitensi sebuah negara didukung pula oleh eksistensi segala bentuk organisasi yang hidup pada negara tersebut. Jika manajemen dalam semua, atau minimal sebagian besar organisasi di Indonesia telah diperkuat oleh kepemimpinan yang efektif, maka optimisme menciptakan kepemimpinan efektif pada tingkat negara akan dapat diwujudkan.
            Setelah seorang pemimpin mampu menentukan arah, atau dalam hal ini lebih lazim disebut visi, ia pun harus dapat menentukan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menuju visi tersebut, sesuai dengan prioritas yang harus dicapai. Langkah-langkah ini yang disebut sebagai misi organisasi. Setelah mengidentifikasi langkah-langkah yang hendak dilakukan, ia dapat melaksanakannya secara jelas dan nyata. Maka, pemimpin bukan hanya bicara, ia juga melakukan apa yang ia katakan, dalam kondisi tersulit sekalipun. Inilah yang disebut dengan pemimpin berintegritas.
            Visi yang dibentuk haruslah bersifat global dan strategis, sedangkan misi bersifat taktis. Penentuan visi dan identifikasi misi haruslah melihat kondisi kekinian, serta mempertimbangkan proyeksi kondisi di masa yang akan datang, beserta peluang dan ancaman yang mungkin muncul. Pemimpin yang diharapkan oleh bangsa kita saat ini adalah pemimpin yang mampu melihat di mana kita sekarang berada. bahwa saat ini sudah bukan masanya masyarakat dininabobokan dengan dongeng kekayaan alam Indonesia. Maka pemimpin harus mampu mengelola, tidak hanya sumber daya alam, tetapi juga manusia. Artinya, pemimpin idealnya mampu mentransformasikan basis pembangunan, dari natural resources capital menjadi human capital. Tidak hanya sebatas paradigma, tetapi juga melalui aksi nyata. Soekarno, Presiden pertama kita telah menyatakan hal ini berpuluh tahun lalu.
            Visi yang strategis, maksudnya adalah visi jangka panjang. Pemimpin efektif mampu merumuskan arah pembangunan bangsanya, bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia ini. Karena sesungguhnya, salah satu tugas utama seorang pemimpin adalah menciptakan pemimpin-pemimpin baru. Hal ini terkait engan sistem yang dibangun. Bahwa seyogyanya, sistem dalam suatu negara tak perlu berubah tiap terjadi perubahan kepemimpinan. Cukuplah pemimpin baru bersikap “legowo” dengan melanjutkan sistem yang telah terbangun sebelumnya, ambil bagian baiknya dengan melakukan modifikasi dan optimalisasi pada poin-poin yang belum optimal. Sebab hal ini juga berkaitan langsung dengan fase-fase ketercapaian visi global dan strategis yang telah dibentuk.
Tentu saja, pemimpin yang menjadi pelaku bukan berarti harus melakukan segala tugas negara sendirian. Lagipula, ia tak akan mampu memiliki segala kompetensi untuk menyelesaikan segala tugas dan urusan tersebut. Maka ia harus mampu mendelegasikan berbagai tugas dan urusan tersebut kepada pihak-pihak yang kompeten serta memiliki kredibilitas dan integritas di bidangnya tanpa membuat mereka merasa terpaksa menjalankannya. Dengan kata lain, konstituen merasa passionate untuk bekerja bersama pemimpinnya. Pemimpin yang mampu menetapkan tujuan, menentukan prioritas, serta menetapkan dan memonitor standar dapat terjadi jika dan hanya jika ia telah memiliki trust and respect. Brecht menyatakan, “Ada banyak elemen dalam kampanya. Kepemimpinan adalah yang utama, selebihnya adalah nomor dua.” Drucker pun menjelaskan, “Kepemimpinan adalah melakukan hal-hal benar.
Kepemimpinan publik dibentuk melalui integrasi kepemimpinan individu. Hanya individu yang telah mampu memimpin dirinya sendiri yang mampu memimpin kelompok orang, terlebih, memimpin sebuah negara. Sistem yang dibentuk harus ditopang oleh individu-individu paripurna. Lebih jauh lagi, kita tentu menginginkan pemimpin yang bersih dan jujur. Bersih dari ambisi pribadinya, dan jujur pada suara hatinya sehingga mampu mendengar suara hati rakyatnya hingga bisikan terlirih mereka yang mengatakan, “Aku hanya butuh tempat di negeriku, untuk tidur malam ini.”
Kesimpulannya, efektivitas kepemimpinan dapat diraih melalui empat kata kunci, yaitu credibility and integrity to build trust and respect. Empat hal inilah yang harus dimiliki dan dibentuk oleh generasi muda Indonesia. Sebab pasti, suatu hari nanti tampuk kepemimpinan bangsa ini akan jatuh ke tangan generasi mudanya. Akhirnya, tentang nasionalisme pemimpin efektif sendiri saya kira dapat terangkum melalui perasaan cinta tanah air dan keberpihakan kepadanya, diwujudkan melalui perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajahan dalam bebagai wujud dan rupanya, menanamkan kehormatan dalam jiwa putra-putri bangsa, dan dilakukan dengan memperkuat ikatan kekeluargaan antara anggota masyarakat yang dipimpinnya.
Hidup Indonesiaku!
*gileee...mikir apa gue bisa nulis begini....tapi okelah

Kamis, 30 September 2010

Tentang Sebuah Pewarisan

Seberapapun kecilnya rasa cinta di hatimu untuk organisasimu sekarang,

cintailah ia, dekatilah ia

bangunkan ia dengan cintamu

Himpun kekuatannya hingga kelemahannya tak berarti apa-apa

Jadilah seorang yang efektif dan efisien di dalamnya

Jadikanlah produktivitas dan kontribusi sebagai jalan cintamu padanya"



Aku berpikir tentang mewariskan semua ini...tentang mengusahakan semuanya tidak menjadi biasa saja

Tidak semua hal baik ada padaku atau generasiku, seperti halnya banyak hal buruk belum mau meninggalkanku atau generasiku



Aku tahu, aku ingin generasi yang lebih baik... lebih kuat

maka aku ingin mewariskan kebaikan, yang mengakselerasi mereka agar tidak jalan di tempat



Aku bertanya, "Bagaimana cara yang akan kutempuh untuk mewariskannya secara efektif?"

Aku masih memikirkan jawabannya...

Aku suka bertanya dan mencari jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaanku



Bahkan jika pewarisan ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan,

akan kulakukan sebaik-baiknya.



Inilah nilai kesungguhan yang bisa aku bagi.

Kredibilitas + integritas ---> trust

Sabtu, 28 Agustus 2010

Pendidikan

Perjalanan waktu membuatku melihat realita
Pergantian masa membuatku mempelajari fakta
Hingga hari ini aku melihat begitu banyak anak bangsa dengan pemikiran luar biasa
Aku pun melihat lahirnya pemahaman, serta banyaknya generasi muda pemikir dan pembelajar

Mereka yang selalu mencari dan membagi ilmu
Membuka mata dan hati untuk meyakini bahwa selalu ada harapan untuk maju


Kondisi pendidikan di Negara kita memang masih jauh dari ideal
Sistem yang ada belum benar2 mantap, apalagi untuk mewujudkan education for everyone
Tapi kondisi ini bukan untuk dikeluhkan,
Terlebih untuk sekadar dikomentari sebagai ironi.
Let’s ponder…
Together we learn, together we educate people...