Minggu, 28 Oktober 2012

Guru.. Izinkan Kami Meneladanimu


Guru… Sebuah kata yang sangat membekas di dalam hatiku.

Ya, sebab aku punya cerita yang tidak semua orang tahu. Kalau bukan karena jasa seorang guru, mungkin sekarang aku tidak bisa menjadi seorang sarjana. Hal yang paling kuingat dari seorang guru adalah sosok pendidik bukan sekadar pengajar, seorang pembentuk karakter bukan sekadar seorang penyampai teori. Aku, bukti hidup “korban” seorang guru…

Awalnya aku nggak pernah mikir akan bisa kuliah. Tapi sejak SD memang dari dulu tekadku satu: harus bisa kuliah di salah satu PTN 5 besar di Indonesia lewat jalur SPMB! Hff meskipun nggak mudah belajar untuk SPMB.  Tapi karena keputusanku sudah bulat, bagaimanapun aku harus belajar. Pertimbangan utamaku kuliah di salah satu PTN 5 besar nasional tentu saja karena kualitasnya masih menjadi yang terbaik di Indonesia. Jadi aku pikir, jurusan apapun yang kuambil, insya Allah akan bisa mendapatkan ilmu yang baik di sana, dan dapat memanfaatkannya untuk kebaikan bangsa kita. Hahaha, sepertinya cita-citaku tinggi sekali ya, bahkan kadang kurang ngerti juga bagaimana mewujudkannya, tapi aku optimis aja. Alasan kedua yang membuatku sangat tertantang untuk mengejar PTN tentu saja karena biaya pendidikannya yang relatif murah.
Namun, bagaimanapun murahnya biaya pendidikan, tetap saja aku harus mengeluarkan uang dalam satuan juta. Nggak enak sebenarnya minta ke orang tua. Karena selain memang sudah berniat belajar mandiri sejak SMA, aku juga ingin orang tuaku lebih memfokuskan pembiayaan untuk pendidikan kedua adik yang masih kecil. Nah masalahnya, di kota kecil tempat asalku, nggak banyak kerja sampingan yang bisa dilakukan oleh seorang siswa. Hff…

Satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah menabung. Sayangnya, aku benar-benar bukan orang yang memiliki motivasi tinggi untuk melakukan sesuatu secara teratur, seperti menabung. Namun ternyata seorang guru bisa merubah karakter burukku ini.

Beliau bernama Pak Rohman, guruku di SMP. Seorang yang dikenal sangat selektif menilai siswanya, sehingga tidak bisa dekat dengan semua siswa. Tapi ternyata, di balik selektivitas beliau ada hati yang peka terhadap permasalahan siswanya. Setelah pengumuman kelulusan SMP, beliau memanggilku. Awalnya aku bertanya-tanya, “Emang salah apa ya kok dipanggil? Kan udah lulus juga, ada apa sih?”. Lalu, karena nggak merasa bersalah aku pun menemui beliau, dan ternyata… beliau mengucapkan selamat atas kelulusanku dan memberiku uang! Ya, uang…besarnya hanya 250.000 rupiah.

“Ini hadiah kelulusan, Pak?”, tanyaku polos waktu itu.
“Bisa dianggap begitu, bisa juga bukan”, jawab beliau.
“Maksudnya apa, Pak?”, tanyaku lagi.
“Kalau kamu oportunis, maka uang itu jadi hadiah kelulusan. Tapi kalo kamu visioner, uang itu jadi biaya kuliah.”

Aku setengah nggak ngerti maksud guruku itu. Oportunis? Visioner? Apa pula itu? Ah tapi tadi aku dengar soal biaya kuliah. Tapi…tapi…tapi… kan cuma 250.000? Mana mungkin cukup???

“Gimana caranya bisa jadi biaya kuliah, Pak?”, akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulutku.
“Sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit”, jawab beliau sambil berlalu, meninggalkanku berpikir sendirian.

“Apa maksud Pak Rohman?”, pikirku seharian. Entah kenapa otakku jadi agak lemot saat itu. Sampai sore aku baru sadar kalau perkataan beliau itu adalah peribahasa yang berkaitan dengan: menabung!

Hah? Nabung? Aku kan agak kurang konsisten melakukan usaha rutinan begini? Ah, Pak Rohman ada-ada aja…  Dan saat itu juga aku baru sadar maksud dari oportunis dan visioner, dasar anak baru lulus SMP. 

Tapi mau gimana lagi, uang 250.000 itu sudah aku pegang, nggak mungkin aku kembalikan. Dan itu artinya beliau sedang menantangku. Ya, menantang untuk membuktikan bahwa aku bisa kuliah sekaligus bisa menabung! Membuktikan bahwa anak kampung juga bisa visioner!

Akhirnya, kemalasanku luluh juga, berganti tekad yang kuat. Aku temui ayah, menanyakan kesiapan dana untuk sekolah SMA. Kata ayah, “Tenang aja, ada insya Allah.”

Lalu aku tanyakan juga tentang biaya kuliah. Ayah menjawab dengan gamang, “Nanti ya, mungkin kalau ada rejeki.”

Aku tidak puas. Kutanyakan pada ayah berapa uang sakuku saat SMA nanti. Aku mau mulai mengatur keuangan. Memang sih selama ini aku nggak doyan jajan, tapi uang sakuku jadi habis juga buat beli majalah Bobo. Kalau gini terus sih, aku nggak akan bisa nabung, jadi aku harus merencanakan anggaran finansial sejak saat ini juga!

Kata ayahku, “Kamu kan mau lanjut sekolah di Madiun, ngekost aja biar hemat. Ayah sudah carikan tempat kost, sewa per bulannya 75.000. Uang sekolahmu per bulannya 75.000. Nanti sebulannya ayah kasih 350.000 buat uang sekolah, bayar kost, sama uang saku ya.”

Hff… “Iya, yah”, kataku pasrah. Dan aku memang nggak berniat menuntut lebih, tanggungan ayahku masih banyak dengan gaji pegawai pabrik gula waktu itu hanya 1,2 juta. Ibuku juga tidak punya penghasilan. Anggota keluarga kami ada  5 orang. Jadi sebenarnya, proporsi gaji ayah paling besar digunakan untuk biaya sekolahku, padahal adik-adikku juga butuh biaya sekolah.

Lalu aku pun memikirkan bagaimana caranya menabung dari uang saku segitu. Yup, untuk kebutuhan hidup per hari aku hanya boleh mengeluarkan total biaya kira-kira 6-7 ribu per hari. Mau makan apa? Kalau tiba-tiba pengen pulang atau perlu pergi agak jauh dari sekolah mau naik apa? Kalau butuh alat tulis? Fotokopi? Aaarrrggghhh…

Malangnya, di rumah kostku nggak ada tempat masak, jadi aku harus beli makanan. Mau minta dibelikan alat masak sama orang tua? Nggak ah, akunya juga nggak telaten masak. Akhirnya kuputuskan untuk nyari tempat makan termurah! Alhamdulillah… ternyata ada J

Warung makan ini buka tiap pagi, menjual nasi ditambah tahu dan tempe bumbu balado, harganya 1.500 rupiah. Nasinya agak keras dan kurang bagus, kadang agak apek tapi porsinya banyak. Aku bagi nasinya jadi dua bagian: untuk sarapan dan makan siang. Lauk sarapannya sepotong tempe, makan siangnya sepotong tahu, tanpa sayur. Baru malamnya aku nggak makan nasi lagi, hanya makan pecel sayur dan sepotong tempe goreng kecil seharga seribu rupiah. Aku pun jadi rajin puasa. Semua kebutuhan seperti sabun, pasta gigi, shampoo, dan lain-lain aku gunakan sehemat mungkin, aku beli alat tulis paling murah dan fotokopi dengan kertas buram. Aku nggak pernah ikut les apapun, semua mata pelajaran aku pelajari sendiri, buku-buku pun jarang beli karena sebenarnya di perpustakaan pun ada. Lalu dengan pasang muka tembok aku rajin jadi pengunjung perpustakaan untuk memperpanjang pinjaman. Haha… Pada akhirnya aku sadar hal-hal kecil seperti memperpanjang peminjaman buku pun membentuk kepribadianku menjadi seorang yang lebih telaten. Aku senang, dengan cara begitu setidaknya jatah uang untuk membeli buku-bukuku bisa dialihkan menjadi jatah untuk buku adik-adikku. Hahaha… Jujur aku cukup bangga karena ini. Maklum anak SMA, tetap punya sisi narsis.  Alhamdulillah, badanku cukup kuat menanggung gaya hidup semacam itu. Semasa SMA aku hanya pernah sekali sakit, itu pun demam dan radang tenggorokan saja.
Akhirnya aku bisa menabung sekitar 100.000 rupiah per bulan, kadang lebih, seringnya kurang. Aku lakukan rutin hingga lulus SMA. Alhamdulillah, prestasi belajarku di sekolah baik sehingga aku makin semangat ikut SPMB. Karena prestasi juga, aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk tes SPMB. Sekolah memberikan banyak bantuan, mulai dari uang untuk membeli formulir, transportasi ke tempat ujian, akomodasi, semuanya... Alhamdulillah, aku semakin yakin memang ditakdirkan untuk ikut SPMB. Dan alasan memperjuangkan SPMB juga lah yang membuatku sama sekali tidak mendaftarkan diri ikut PMDK dari universitas manapun.

Alhamdulillah, pengumuman SPMB menyatakan aku lulus, masuk Departemen Ilmu & Teknologi Pangan IPB. Kabarnya, ini departemen paling bagu dan paling susah ditembus di IPB. Saat itu uang tabunganku sekitar tiga juta lebih sedikit. Aku lupa tepatnya. Biaya masuk kuliahku total sebesar 6,5 juta untuk setahun ke depan. Setelah setahun itu, aku hanya akan membayar uang SPP dan biaya SKS sekitar 1,2-1,4 juta per semester. Orang tuaku menyanggupi untuk membayar kekurangan tabunganku. Tapi aku melakukan hal lain: bernegosiasi dengan panitia registrasi, meminta keringanan untuk bisa membayar uang masuk dengan cara mencicil. Mereka pun setuju. Alhamdulillah, kekurangan biaya itu pun aku bayar dengan tabunganku.
Sejak resmi menjadi mahasiswa, hidupku nggak se-prihatin semasa SMA. Ekonomi keluarga mulai membaik karena ayah memutuskan keluar dari pabrik dan mengelola sawah sendiri. Hasil sawah kami cukup baik, alhamdulillah… Tapi aku tetap rajin menabung. Aku punya banyak celengan kaleng, dan aku juga mulai memanfaatkan rekening bank syariah, tidak hanya celengan. Semasa kuliah aku rajin mengikuti perlombaan, sebagian perlombaan menghasilkan uang dalam jumlah lumayan. Aku tabung juga untuk biaya kuliah. Meskipun demikian, aku masih sering minta orang tua untuk biaya hidup. Tapi setidaknya, aku jadi punya kebiasaan baik: telaten dan suka menabung. Orang tua pun senang hidupku ada perkembangan. Saat lulus, aku masih punya sisa tabungan beberapa ratus ribu yang kugunakan untuk membantu orang tua membiayai pernikahanku. Memang sedikit, tapi bagiku dan kedua orang tuaku ada nilai usaha yang besar J
Mungkin, kalau tidak pernah mengenal guru seperti Pak Rohman, aku tidak akan pernah punya kebiasaan menabung, mungkin aku akan tetap menjadi orang yang kurang konsisten dan malas. Mungkin, kalau bukan karena motivasi seharga 250.000, aku nggak akan terlalu menderita sewaktu SMA dulu, dan mungkin aku bukan sarjana sekarang, nggak pernah punya pengalaman manis pahitnya mengukir prestasi di kampus, nggak pernah ikut kompetisi, nggak pernah ngerti rasanya menang, rasanya kalah, nggak pernah bergabung dengan organisasi kemahasiswaan di berbagai level, nggak pernah ikut training dan seminar ini-itu, bahkan mungkin nggak punya kesempatan memanfaatkan ilmu untuk menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat seperti sekarang.

Guruku hebat! Guruku pendidik sejati. Mei lalu, saat aku bertemu lagi dengan beliau, gayanya tetap sama. Tidak hangat, tetapi penuh pengertian, penuh bangga. Dan yang aku tahu, bukan cuma aku yang mendapat perlakuan serupa dari beliau. Beberapa kakak kelas dan adik kelas pun, benar-benar merasakan manfaat dari guru kami itu.

Guru, izinkan kami meneladanimu…

Life... Recently

Kontraksi terus...and it loses again... Hari-hari menyenangkan tapi masih agak sakit. Hmmm, nggak tau gimana caranya nggak capek hehe... But everything's all right, anggap saja semua ada waktunya :)

Rutinitas sehari-hari: bangun antara jam 3-3.30, sholat, ngaji sampe subuh, habis subuh ke pasar belanja bahan masakan buat besoknya~kalo yg mau dimasak hari ini belanjanya kemarin (kalo kepaksa bgt pusing atau ngantuk ya tidur bentar nggak ke pasar), trus masak buat sarapan, siap2 berangkat, sampe kantor sholat dhuha plus tilawah sambil muroja'ah dikit2 sampe jam 8.45 baru mulai kerja, sebenernya jam kantornya jam 9, tapi karena nebeng suami jadi berangkat jam 7 pagi tiap hari, sampe kantor masih nunggu 1,5 jam sampe jam masuk jd harus dimanfaatin. Pulang jam 5 sore, tapi biasanya molor sampe habis maghrib nunggu jemputan. Sampe kosan isya, trus istirahat bentar sambil nyiapin bumbu sama sayuran yang mau dimasak besok paginya, trus ngerjain kewajiban2 lain: soal MITI dsb, lalu istirahat.

Tentang kosan: relatif murah (1,2 juta/bulan udah tinggal nempatin utk ukuran bandung, full  facility kamar nyaman lega, KM dalem, set kasur, lemari gedee, set meja kerja lengkap, internet, tempat jemuran, air bersih lancar, TV kabel, kulkas, air minum, listrik, dapur, laundry, iuran kebersihan n keamanan, atap lantai 3 bisa buat jogging *futsal aja bisa, deket pasar, mini market macem2, atm center, travel, pom bensin, pusdai plus strategis banget di tengah kota deket stasiun, gedung sate, gazibu, dll

Tentang kerjaan: di ashoka...seruuu!!! nemu banyak inspirasi di sini, hari pertama masuk kayak pertama kali ikut workshop, seneng bgt kenal lbh banyak ycm & fellow super inspiratif...hmm susah diungkapkan deh. Apalagi akunya emang suka bgt comdev2an dan nggak pengen kerja do corporate, so NGO jadi first option, bukan kyk orang lain yg anggap ini last option. Hmm... meskipun mungkin nggak bisa lama juga di Ashoka krn ngikut suami pindah2. Gpp, yg penting di manapun ttp berkerya :) Go comdev!

Senengnya... alhamdulillah thn ini bisa beli hewan qurban sendiri :) meskipun gak ikut makan dagingnya hehe... Soalnya beli kambingnya di Surabaya (lebih murah jadi bisa beli buat berdua, alhamdulillah), trus disembelih di sana jadi yang di Bandung cukup tau aja. Long weekend kemarin maen2 ke saudara2 di Jakarta: berenang di rumah keluarga pakde Arif, dapet cerita keliling dunia paling seru dari bude (next turn will be ours, aamiin...), plus berasa honeymoon kedua nginep di cottage padahal rumah, terinspirasi dari keluarga mereka yang punya banyaaak santri di nusantara, sebagian besar di Jakarta, Ngawi, & Bali. Hartanya melimpah, gunung punya, pulau ada, tanah & berbagai macam properti berceceran...dan sebagian besar dimanfaatkan utk pesantren anak2 yatim, yatim piatu, dan dhuafa. Subhanallah... Alhamdulilah, mereka ini sosok2 yang memberi banyak harapan bagi Indonesia. Bagusnya lagi, meskipun pejabat tinggi, anak2 mereka, dididik utk nggak manja: jalan kaki & naik angkot ke mana2, sekolah di pesantren, nggak boleh naik mobil dinas papanya, nggak boleh manfaatin sopir biar mandiri. Para santri dididik utk mandiri juga, diajari mengelola usaha bersama, de el el. Subhanallah...

Habis dari sana perjalanan lanjut... sholat 'Id plus makan segala macem masakan Aceh bareng keluarga pakde Syahrul, kuliner cemilan sama keluarga tante Endah, jalan2 plus makan macem2 seafood sama keluarga tante Nunuk. Kenyaaang... Pas pulang ke Bandung, seneng banget karena ngerasain udara sejuk lagi (maklum ya, Jakarta panas hehe...).

Senang juga diantar bang Dhika ke mana2. Dia anak pakde Syahrul. Sepupuku yg satu ini wawasannya luaaaas....tau banyaaaak hal. Jadi bisa nyambung ngobrol sama siapapun, termasuk sama keluarga dari suami, jadi cepet akrab meskipun baru pertama kali ketemu. Ditambah lagi, background kedua keluarga besar yang dominan perwira tinggi tentara, jadi pasti klop. Alhamdulillah malah nambah banyak keluarga baru dan kenalan dari keluarga om Sru (suami tante Nunuk). Ibunya om Sru udah 84 tahun, tapi masih hobi masak, cuci piring, & nyapu hehe (malu dong yg muda), badan beliau udah kurus bgt tapi giginya masih kuat & rapi, utuh semua (mudanya pasti cantik nih).

Sebenernya kalo liat background keluarga besar kami, jadi agak jiper juga. Tapi yakin, insya Allah kami pun sdg berusaha memberi banyak manfaat, bukan hanya utk diri sendiri, tapi utk agama, keluarga, masyarakat, dan in long term: Indonesia. Bismillah... *yuk lanjut kerja lagi

Minggu, 30 September 2012

Guru iku Digugu lan Ditiru



Guru adalah seseorang yang bisa dituruti dan ditiru. Sedari kecil saya diajari hal itu, makanya pengeeen banget jadi guru biar banyak yang niru! Hehe… Hmm saat SD dulu dalam pikiran saya guru adalah seorang yang luar biasa. Pintar, baik, dan selalu berperilaku benar. Setidaknya, harapan saya terhadap sosok seorang guru memang seperti itu. Nyatanya, sekarang nggak semua guru memiliki kualifikasi di atas. Eh, bukan semua bukan berarti nggak ada lho… Banyak kok guru yang masih memegang teguh nilai-nilai pengabdian memberikan pendidikan terbaik bagi siswa-siswi tercinta. Nggak perlu jauh-jauh nyari contohnya, cukup guru-guru  saya sendiri, terutama guru-guru SD.

Okay blog, saya pengen cerita nih ya tentang dua orang guru SD saya. Beliau berdua adalah legenda guru di SD saya. Bahkan setelah pensiun beberapa tahun yang lalu pun, nama beliau berdua tetap dikenal semua siswa sampai sekarang. Yup, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan…hmmm…jasa! Seorang guru bernama Pak Sariman adalah salah satu orang paling berjasa dan paling berkesan dalam hidup saya. Gimana enggak? SD saya adalah sebuah sekolah kecil di desa kecil di ujung barat Jawa Timur, di daerah Gunung Lawu, Magetan. Saat saya SD dulu, pendidikan yang baik masih menjadi barang mahal bagi kami, anak-anak desa. Meskipun demikian, SD kami masih masuk daftar sekolah beruntung karena mendapat guru-guru terbaik, salah satunya Pak Sariman, guru IPA kami. Beliau adalah guru paling sabar yang pernah saya kenal, lembut memperlakukan murid-muridnya, nggak pernah marah. Aksi yang paling heroik, para siswaa yang kesurupan pun bisa tenang setelah ditangani beliau. Herannya, justru dengan sikap seperti itu para siswa jadi lebih segan pada beliau, selalu mendengar nasehat beliau, dan nggak berani bandel lagi kalo udah ngobrol ma beliau. Karena sikap seperti itu juga, beliau menjadi teman yang baik bagi kami, para siswa, jadi teman curhat, teman ngobrol, teman becanda, teman belajar. Padahal secara usia, pasti beda jauh. Tapi beliau pintar sekali bergaul dengan para murid. Oh ya, yang pasti beliau pintaaarrr…jadi kami bisa bebas belajar dan tanya-tanya sama beliau. Eh, kecuali tanya jawaban ulangan lho ya.

Satu hal paling berkesan dari Pak Sariman adalah karena beliau yang telah membantu saya menemukan cara berpikir yang visioner. Hmm…dulu saya sama seperti anak kecil umumnya, nggak punya cita-cita yang jelas, kalo ditanya cita-cita jawab seadanya, dan nggak tau gimana caranya mewujudkan cita-cita biar jadi nyata. Beliau sebagai guru IPA nggak cuma mengajarkan teori, tapi juga mengajak berparaktek, dan juga menceritakan tentang tokoh-tokoh ilmuwan di seluruh dunia, meminjami saya buku-buku ensiklopedi yang super langka (apalagi di desa), di perpus sekolah aja nggak ada…

Salah satu tokoh yang sering beliau ceritakan adalah tokoh yang juga sering diceritakan mama: BJ. Habibie. Pak Habibie adalah inspirator yang membuat saya serius bercita-cita menjadi insinyur. Saya ingin Indonesia bangga sama anak yang dibesarkannya sendiri. Pak Sariman juga memperkenalkan sebuah sekolah yang paling istimewa bagi saya hingga saat ini: SMA Negeri 2 Madiun. Bagi anak desa seperti saya, Madiun adalah kota besar. Berani sekolah di kota itu berarti berani bersaing dengan sekian ribu pelajar pintar, yang punya fasilitas lengkap, yang  rajin les kesana-kemari. Dan saya, hanya anak yang mengandalkan 5 jam belajar di sekolah. Namun Pak Sariman terus mendorong saya dan mengatakan bahwa saya pasti bisa masuk sekolah terbaik di kawasan Madiun-Ponorogo-Pacitan-Magetan-Ngawi, yang saat itu menduduki peringkat ketiga terbaik se-Jawa Timur. Dalam mimpi pun saya nggak pernah berani mikir sekolah di sana. Tapi saya pengen belajar, pengen kuliah di salah satu PTN terbaik Indonesia. Aaah….

Saat saya kelas 5 SD, Pak Sariman pernah berkata, “Kamu yang terbaik di sekolah ini. Kamu boleh melanjutkan SMP di mana saja, tapi SMA nya harus di SMA 2 Madiun lho ya.”

“Belajar sungguh-sungguh, berdoa banyak-banyak, tapi jangan terbebani. Bapak yakin kemampuanmu masuk sekolah itu nggak perlu diragukan, yang penting mau,” lanjut beliau.

Akhirnya, saya turuti saran beliau. Daaan… dengan menguatkan tekad, selepas mengetahui hasil UAN SMP saya pun mendaftarkan diri ke SMA 2 Madiun. Alhamdulillah, semuanya lancaaar…

Sekolah ini istimewa. Di sini saya menemukan jati diri, menemukan cita-cita, menemukan semangat, menemukan cara bagaimana harus menjalani hidup. Ya, di sinilah saya bertemu sesosok makhluk tak berwujud, tapi punya pengaruh sangat kuat dalam hidup, namanya visi. Di sini juga pertama kaliya saya menemukan passion untuk melakukan community development… di bidang pertanian pangan! Dan ini benar-benar memotivasi saya untuk menjadi seorang Insinyur di bidang pertanian. Alhamdulillah, beberapa tahun setelahnya Allah mengizinkan saya menjadi seorang Sarjana Teknologi Pertanian, lulusan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB. Saat ini saya bersama beberapa rekan dalam komunitas peduli inovasi pertanian berusaha membantu petani dengan memperkenalkan inovasi-inovasi di bidang pertanian yang mudah, murah, dan tepat guna. Semoga ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat untuk masyarakat luas nantinya, seperti cita-cita saya sedari dulu.

Tentu saja pencapaian saya hingga saat ini tak lepas dari peran pak Sariman, seorang pahlawan tanpa tanda jasa sejati. Begitu kuat motivasi beliau berikan, dan begitu banyak informasi beliau sampaikan, membuat saya bisa melakukan apa yang saya kerjakan sekarang.

Guru kedua yang akan sayaceritakan bernama Bu Marsi. Beliau ini guru Matematika sekalian IPS. Hebat kan?? Bisa jago ilmu eksak dan sosial sekaligus lho. Beliau adalah guru yang entah dengan cara bagaimana bisa membuat anak yang paling benci matematika jadi telaten dan menyukai mata pelajaran itu. Nggak ada cerita siswa bosan menyimak kelas beliau. Tapi, overall yang paling berkesan buat saya adalah ketika beliau mengajarkan IPS khususnya geografi. Lancar betul beliau menceritakan negara-negara di seluruh dunia, seolah benar-benar pernah ke sana dan melihatnya langsung. Saya pun jadi merasa seperti melihat langsung kota-kota dan negara-negara yang beliau ceitakan. Beliau sering berpesan, para siswa harus memahami peta, supaya nggak ragu berpetualang ke mana saja. Para siswa perlu menginjakkan kaki di berbagai belahan bumi agar bisa belajar dan mengambil hikmah dari banyak hal di luar sana. Sebab dunia nggak cuma selebar daun kelor. Sejak saat itu saya jadi bercita-cita keliling dunia. “Merantaulah anak-anak, siapapun yang kalian temui di rantau adalah keluarga.”

Sejak SMA, saya hidup merantau. Tinggal jauh dari orang tua agar bisa belajar di SMA 2 Madiun, lalu melanjutkan langkah ke tempat yang lebih jauh ke IPB akibat idealisme cinta pertanian, sejauh 20 jam perjalanan darat dari rumah.  Pesan itulah yang selalu menguatkan saya saat merasa sendiri jauh dari keluarga, dan saya pun merasa jadi punya banyak sekali keluarga di setiap tempat. Bahkan saat ke luar negeri pun saya jadi tidak takut, sebab saya mempercayai kebenaran ucapan Bu Marsi, bahwa ke manapun merantau, masih akan bisa bertemu tempat-tempat yang kita sebut rumah, dan orang-orang yang kita sebut keluarga. Jujur, saya punya sisi manja yang merasa enggan jauh dari keluarga, apalagi keluarga besar saya bukan tipe perantau. Tapi saat teringat pesan ini, muncul keberanian dalam diri saya untuk mencapai sesuatu yang ‘lebih’, dan berani berpetualang ke banyak tempat meski nggk ada seorang pun yang dikenal di sana. terima kasih Bu Marsi.

Hmmm… Kalau semua guru yang pernah menjadi inspirasi bagi saya diceritakan di sini, rasanya nggak akan cukup. Jadi sementara ceritanya dua orang dulu ya, guru sejati yang bisa benar-benar dituruti dan ditiru. Ini guruku, gimana gurumu?

Jumat, 21 September 2012

A Woman Teacher is A Woman Too

Sabtu kemarin, sekali lagi...ada lagi bapak2 yang bilang, "Seorang bapak atau suami boleh terpuruk, tapi seorang ibu atau istri tidak boleh. Saya makin menyadari, perempuan itu, di balik tampilan fisiknya yang lemah lembut, sebenarnya sangat kuat, jauh lebih kuat daripada laki-laki. Mental laki-laki nggak ada  apa-apanya kalo nggak didukung perempuan, tapi mental perempuan bisa mandiri sendiri. Saya nggak tau gimana jadinya kehidupan manusa berlangsung kalau perempuan nggak dilahirkan memiliki kekuatan kuar bisa. Udah deh nggak usah ngomongin kehidupan semua manusia, kehidupan satu orang saja nggak akan berjalan. Bukan cuma karena perempuan membawa lahir manusia ke dunia, tapi juga dari tangan perempuanlah lahir karakter yang sesungguhnya."

Hmm... Menurut saya, ucapan bapak2 itu bukan cuma berarti, "Perempuan yang kuat adalah perempuan yang kuat mentalnya, mampu bangun setelah jatuh. Nggak sesederhana itu, tapi perempuan yang kuat harus benar orientasinya, juga prioritasnya."
Please, mental sama orientasi itu beda banget.

Nih saya cerita ya satu kisah nyata.
Saya pernah SD (iya dong, masa tiba2 sarjana?). Sewaktu SD saya punya teman. Pasti lah orang sekolahnya di SD negeri bukan home schooling. Mama dari salah satu teman saya adalah seorang guru SD yang karirnya meroket mengejar kursi kepala sekolah, ya...secara di sana masih jarang lho yang sarjana (di sana gak pandang universitasnya mana, yang penting sarjana udah keren, beda anget sama prinsip saya yang penting kampusnya keren, jurusannya juga ok, gelar sih gak penting2 amat euy). Yup, actually saya emang nggak tertarik sama status sosia yang diperoleh dari hasil pendidikan, jabatan, maupun kekayaan. Itu tanggung jawab boi bukan status gaya2an. pokoknya passion saya belajar. Titik. Dan selama belajar, saya harus dapat kualitas terbaik. Sama2 belajar, sama2 invest waktu, tenaga, pikiran, kenapa nggak nyari yang oke? Kuliah buat dapet gelar?  How awful...

Btw, bukan berarti saya bilang mamanya temen saya nggak keren. Oh salah. Beliau keren, ambisinya besar (apapun di luar karir nggak boleh menghambat karir), disiplin luar biasa. Bahkan saking disiplinnya, saya bilang beliau: keras, minus toleransi....sama anak2nya.

Teman saya itu anak ketiga dari 3 bersaudara alias anak terakhir, tapi selama berteman di satu SD itu saya cuma pernah bertemu kakaknya yang nomor 2. Dia bilang kakak pertamanya sudah meninggal.

U know whaat? Temen saya juag meninggal sewaktu kelas 2 SD. Tiga hari sebelum meninggal saya masih maen ke rumahnya, nemenin dia yang temen2nya dipilihin sama mamanya biar nggak jadi anak bandel. Hff... padahal menurut saya usia segitu saatnya belajar bersosialisasi. Eh saya nggak bangga lho mamanya ngizinin saya berteman sama anaknya. Biasa aja soalnya emang semua anak di sekolah ya temen saya. Waktu kami maen, dia baik2 aja kok nggak kenapa2. Nah waktu dia meninggal saya kaget mama bilang dia pergi. Pikiran bocah kecil saya beranggapan kalo dia bakal pulang lagi ke rumah, tapi kata mama dia pergi selamanya buat ketemu Allah. Saya nggak sedih buat dia, karena mama selalu bilang Allah itu baik. Tapi saya sedih buat diri sendiri soalnya dia belum ngembaliin bola yang saya bawa maen ke rumahnya. Hehe...ego bocah banget ya. Btw, kami sama2 tomboy dulu, nggak maen boneka tapi maen bola, meskipun cuma boleh di dalem rumahnya sih. Bertahun kemudian, saya baru tahu kalo temen saya itu nggak punya riwayat penyakit, dia sehat wal'afiat secara jasmani. Tapi secara mental nggak, dia sakit, dia etakutan sama bentakan mamanya tiap kali nyuruh belajar. Teman saya ini memang sejak kelas 1 nilai peernya bagus2, bahkan nilai saya beberapa kali kalah tinggi sama dia. Saya juara 2 dan dia juara 1. Bedanya kami memang nggak setipe dalam belajar. Saya ngandelin penjelasan guru di sekolah. Pulang sekolah maen sama sore, sore ngaji, pulang ngaji makan, ngerjain peer seadanya trus tidur. Beda sama dia yang dipaksa belajar keras, jadwal teratur, target bacaan harus tuntas. Bisa dibilang saya tuh seadanya banget. Sampe  lulus SD dunia saya masih maen2 hehe....

Back to the topic, ternyata teman saya itu sangat ketakutan sama ibunya. Sampai suatu ketika sebelum meninggal, habis maghrib itu dia harusnya ngerjain peer, tapi dibentak mamanya karena nggak bisa ngerjain soal perkalian & pembagian. Btw waktu kelas 2 SD saya juga mengalami kesulitan menyelesaikan soal perkalian, padahal saya suka banget matematika. Pernah satu kali ulangan saya nggak ngerjain sama sekali satu soal pun perkalian & pembagian. Akibatnya, pastilah nilai saya 0. Nol ditulis gedeeee... biasanya sih angka 10 dapet lah buat matematika. Hoho... Tapi itu cuma sekali kok, pas saya jenuh belajar. Parahnya saya kelas kepala,  kalo udah jenuh efeknya nggak mau. Kalo nggak mau ya nggak bisa dipaksa buat mau hehe... Orang soalnya aja nggak dilihat gimana mau dikerjain. Ups...jangan ditiru ya.  Nah saya ingat peer perkalian & pembagian waktu dari angka 6-9. Cukup susah memang, tapi kalo anak kesusahan mbok ya diajari, jangan dibentak, wong guru juga kok...

Setelah dibentak, temen saya yang lama menanggung beban mental itu nggak kuat, langsung step, kejang2, dianggap panas biasa sama orang tuanya. Dini hari temen saya kritis, langsung dirujuk ke rumah sakit, tapi menjelang paginya dia meninggal. Hmm...kalo saya yang cerita jadi nggak sedih ya hehe... Ini bener kisah nyata bukan gubahan dari novel salah asuhan.

Lanjut, suatu kali setelah kepergian teman saya itu, saya bertemu (maaf), orang gila di jalan, mentallity disorder, sakit mental stadium parah. Dia ngamuk2 di teras rumah kosong di depan rumah saya. Waktu malam dia ngomong sendiri keras2, siangnya cuma diem, duduk jongkok sepanjang hari kayak orang ngelamun. Kadang kalo emosinya naik bisa gawat, ngamuk2 sambil lempar2 batu. Ngeri? Iya. Saya tutup semua pintu rumah sambil berdoa kuat2 kalo dia ngamuk, takut tiba2 batunya mental ke kaca jendela rumah. Hff... Saya tanya mama siapa dia, mama cuma  jawab dia orang yang mengalami gangguan kejiwaan, udah lama, tapi dulu masih mau nurut nggak ngamuk2 begini. Dulu dia sempet dirawat adik dari mbah putri saya di rumah beliau. Rumah mbah lik ada di balik rumah kosong itu. Mbah lik saya itu emang orangnya baik n penuh kasih sayang, cuma mbah lik yang bisa bikin reda amarah orang yang ngamuk2 itu. Tapi ternyata nggak ngefek setelah kematian temen saya. Selama ini saya nggak pernah tau kalo mbah lik ngangkat anak asuh, ternyata memang anak itu disembunyikan...supaya nggak ketemu orang tuanya!

Saat itu saya nggak pernah berpikir kalau ada hubungan dari 2 kejadian ini. Dua hal yang terpisah jauh dan benar2 beda. sampai suatu ketika saya tau bahwa temen saya pernah bohong, kakak pertamanya belum meninggal, masih hidup...tapi jadi seperti itu. Iya, faktanya orang yang ngamuk2 di rumah kosong depan rumah saya itu adalah kakak pertama dari temen saya. Dia disembunyikan mbah lik dari orang tuanya, terutama mamanya, karena dia punya dendam sama mamanya sendiri sejak masih sangat kecil, akibat didikan & bentakan yang keras. Dia akan ngamuk2 parah kalo ketemu mamanya. Usaha mbah lik cukup berhasil sampai suatu ketika dia juga mendengar kabar tentang kematian adiknya. Sejak saat itu mentalnya benar terganggu, nggak sembuh sampai sekarang, di usianya yang sudah 30 tahun lebih. Iya, kasihan. Kasihan untuk bocah dewasa dengan orang tua masih lengkap dan kaya-raya.

Cerita kakak kedua lain lagi. Saat masuk SMP dia juga memilih ikut orang lain, yang nggak lain adalah mbah lik saya. Nggak mau ikut sama orang tuanya sendiri. Bahkan nggak mau makan dari uang pemberian orang tua. Saat lebaran juga nggak pulang. Menyedihkan. Si anak ini, sempet putus sekolah waktu SMP. Ironi ya, padahal mamanya guru. Tapi ayah saya maksa dia sekolah lagi, maksa om & sepupu saya yang usianya sepantaran sama dia buat membujuk biar mau sekolah lagi. Alhamdulillah beres juga SMA meskipun hasilnya biasa2 saja. Dia marah sama orang tuanya, meskipun nggak sampai dendam. Dia nggak mau manggil mamanya dengan sebutan ibu atau mama, cuma manggil nama Bu X, meskipun masih manggil papanya bapak. Tapi setidaknya, dia masih bilang ke orang tuanya waktu ingin menikah. Tapi lagi2 orang tuanya bermasalah. Sang mama melarang anaknya menikah sebelum punya kerjaan tetap, gaji tetap. Maklum anak laki2. Mamanya melarang anaknya nikah karena anaknya itu cuma berprofesi montir musiman+tukang bangunan+kerja serabutan serabutan. Larangan orang tua lagi2 nggak tepat waktu. Anaknya marah, kabur lagi sampai sekarang, meskipun tetep nggak jadi nikah. Tapi pasti dia pergi membawa luka yang dalam. Tinggal orang tua tinggal sendiri tanpa anak. Si bapak yang kebetulan punya jasa rental kendaraan & alat2 pesta juga jarang di rumah, lebih sering pergi dari pesta ke pesta.

Nggak bermaksud ngomongin aib orang, cuma semoga bisa jadi pelajaran. Bahwa menjadi orang tua, terutama ibu, haruslah bijak. Nggak boleh terlalu keras sama anak. Anak bukan miniatur orang dewasa yang ngerti pikiran orang dewasa, janganlah disuruh2 dengan kalimat perintah serupa orang dewasa, apalagi ditambah bentakan alih2 kasih sayang yang lembut. Mungkin maksud hati pengen anak jadi superior jenius, apalagi ibunya dianggap "orang pinter", tapi kayaknya banyak kok cara yang lebih baik buat menggali potensi anak, bukan menyuruhnya mengikuti ambisi buta orang tua. Anak manapun akan kehilangan trust sama orang tuanya kalo gitu.

Apalagi profesi sang mama itu guru. Menurut saya profesi guru tugas utamanya bukan cekadar mengajar, tetapi mendidik juga, apalagi guru SD. Saat ini keinginan sang mama menjadi kepala sekolah sudah tercapai, reputasi guru galak di SDnya juga tetep nempel. Beliau hampir pensiun, dan mulai merasa kesepian. Saat ini beliau mencari anak asuh, tapi nggak ada yang mau jadi anak asuhnya. Miris. Kasihan. Semoga Allah Yang Mahabaik akan terus menyayanginya.

Guys n gals, kenapa saya ceritain ini? Sekali lagi bukan mau mengumbar keburukan, tapi saya mau cerita, bahwa perempuan yang kuat bukan perempuan yang besar ambisinya, apalagi untuk karir aja. Sekali seorang perempuan merelakan jatuh bangun demi karir dan reputasi di mata dunia saja, hampanya jiwa akan terasa. Prioritas seorang perempuan adalah rumahnya, keluarganya, orientasinya lurus lillahi ta'ala sebagai ibu dalam mendidik anak-anaknya supaya jadi anak sholih & sholihah yang nantinya bisa juga menjadi pembuka pintu surga bagi kedua orang tuanya, dan mengantar diri mereka sendiri serta keluarganya ke surga, selain juga menjalankan tugasnya dengan orientasi yang lurus sebagai istri, anak, warga negara, & anggota masyarakat. That's why, jadi perempuan harus tangguh...


Well, saya nggak pengen membahas soal gender kok. Pastinya itu kodrati. Nggak usah sok disetarakan karena memang yang adil bukan selalu berarti sama setara, tapi adil adalah tepat pada posisinya, pada waktunya, pada kapasitasnya. Sekian.

Kamis, 26 Juli 2012

jalan juang

"Dek, kenapa mau ngurusin mas?"
"Karena mas perlu dikurusin hehe..."

Ooops salah, ini benernya:
"Karena ngurus suami adalah jihadnya istri ^^"

Alhamdulillah, Allah telah melapangkan jalan juang ini, semoga makin menambah berkah, makin muntijah langkah kita menggapai mardhotillah...

Makasih utk doa2 yg nggak pernah putus sayang...

Rabu, 25 Juli 2012

tentang hidup

Hidup bukanlah tentang berkarir di masa muda lalu berderma di masa tua. Karena kita tidak ernah tau kapan umur kan berujung. Sempat bertemukah kita dengan usia tua. Dan aku berjanji padamu, insya Allah kau akan berhenti tumbuh menjadi orang besar saat kau mulai memikirkan dirimu sendiri saja, karena orang besar tidak melakukannya, mereka berjuang agar umurnya bermanfaat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, bahkan tidak hanya untuk orang di sampingnya,, tetapi untuk banyak orang dalam lingkup yang lebih luas. Maka hidup adalah tentang janji suci, "Alastu birobbikum? Qoou bala syahidna." (QS. Al-A'raf: 172)

Sebodo amat pandangan orang, bukankah yang terpenting pendapat-Nya?

Selasa, 24 Juli 2012

Two Voices One Song


It’s so rare to find a friend like you
Somehow when you’re around
The sky is always blue
The way we talk
The things you say
The way you make it all okay
And how you know
All of my jokes
But you laugh anyway
If I could wish for one thing
I take the smile that you bring
Wherever you go in this world
I’ll come around
Together we dream the same dream
Forever I’m here for you
You’re here for me
Oh~ Two voices one song
And anywhere you are, you know I’ll be around
And when you call my name, I’ll listen for the sound