Selasa, 24 April 2012

kuliah kehidupan

Hff...
Hari ini kuliah kehidupan (lagi), di klinik ditmawa, dengan dosen yang sama.

Kata2 ajaib hari ini: enterpreneurship itu bukan tentang uang, tapi tentang bagaimana memberi...

Soal rejeki, bukan cuma soal uang, banyak...network, keluarga, saudara, teman... itu justru rejeki yang sering terlalu dianggap biasa.

"Saya baru nerima gaji 2,5 juta sejak tahun 2010, sebelumnya, gaji saya cuma 1,5 juta. Coba kamu bayangin gimana saya bisa punya rumah di Yasmin dengan gaji segitu? Buat makan keluara aja logikanya susah kan?"

Gaji cuma buat nyicil rumah, buat makan saya nerima uang jalan kalau ada tugas dari kampus, trus kalo pergi kemana2 saya nggak pernah keluar uang, syukur2 digaji 500 ribu. Uang itu cukup buat makan. Kalo saya kemana2, akomodasinya ditanggung sama network saya di sana. Kalo kamu punya uang tapi nggak punya network deket, mana mungkin ada yang mau bayarin? Bayar hotel, makan, keliling kota, mahal kan? Nah, network itu rejeki."

"Saya mulai menyadari, bisnis yang sesungguhnya adalah memberi, bukan soal berapa banyak keuntungan finansial yang bisa didapat. Saya senang dengan mahasiswa. Saya lebih baik selalu komunikasi dengan mahasiswa daripada ngerjain project2. Mengembangkan inspirasi mahasiswa untuk menghasilkan solusi yang elegan dan penuh makna adalah passion saya. Insya Allah saya nggak pernah pamrih, tapi tanpa saya sadari, itulah bisnis saya."

"Para mahasiswa itu mulai mengenal saya. Sampai kapanpun, mereka ingat saya. Dan mereka adalah network sejati saya.

Buat saya sendiri, rejeki juga bukan soal limpahan harta. Saya, misalnya punya kehidupan bahagia bersama orang tua dan adik2, saya sehat sehingga bisa menikmati waktu itu. Tentu itu adalah rejeki saya. Bisa ngobrol rata2 sejam sehari sama keluarga di rumah, di saat banyak oorang menghabiskan seluruh waktunya bersama karir, terasa menyenangkan.

Membangun impian juga rejeki, bahkan sebelum rejeki itu benar2 sampai ke tangan kita. Sebenarnya,  apapun yang kita miliki adalah rejeki, hanya saja seringkali  kita menganggapnya barang rongsokan.

Dosen yang sama bilang, "Setiap kali ketemu mahasiswa, saya tanya mereka ke kampus naik apa. Sebagian besar menjawab jalan kaki. Lalu saya tanya lagi apa mereka punya sepeda. Nggak sedikit lho yang jawab punya, tapi sepedanya sepeda tua jadi mereka malu. Kenapa malu? Lalu saya minta mereka besoknya bersepeda ke Kota Bogor naik sepeda itu. Awalnya mereka bilang, 'Ngapain pak? Malu2in...'. Tapi saya tetep maksa mereka sampai mau. Setelah mereka melakukannya, saya tanya, 'Gimana kemarin di Bogor? Lihat apa aja?' Jawaban mereka macem2, dan ketika saya minta bercerita, saya tau mereka sudah belajar banyak hal dari perjalanan itu. Lalu saya tanya lagi, 'Kalau jalan kaki, paling jauh sampai mana?' Mereka jawab, 'Kampus pak, FKH' Nah saya tanya, 'Kalo jalan kaki, cuma sampe kampus kan nggak nyampe Kota Bogor, nah kalo naik sepeda bututmu itu, nyampe juga ke Kota Bogor, kamu bisa cerita ini-itu'. Dari situ saya baru menjelaskan pada mereka, apapun potensi yang kita miliki, meskipun kelihatannya kayak barang rongsokan nggak ada harganya, tapi itu bisa membuat kita mendapatkan lebih banyak hal: belajar, pengalaman, dll... Itu yang namanya rejeki. Berkah."

"Kamu tau lagunya film Petualangan Sherina?"
"Yang mana pak?"
"Lihatlah Lebih Dekat. Kamu tau itu ciptaan siapa?"
"Hmm...Elva Secioria ya pak?"
"Nah iya, kamu inget lirik yang banyak diulang?"
"Lihat segalanya lebih dekat. Dan kau akan mengerti."
"Kamu harus tau kalo Bung Elva dapet lirik itu setelah belajar surat Ar-Rahman. Fabi ayyi aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan. Makanya lirik itu diawali pertanyaan2, 'Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir dsb'. Itu bahasa lagu Lihatlah Lebih Dekat untuk ayat2 di dalam Al-Qur'an, 'Maka apakah kamu tidak melihat?'. Jadi, istilah lihatlah segalanya lebih dekat, dan kau akan mengerti itu maksudnya supaya kita belajar bersyukur sama nikmat Allah. Nikmat itu rejeki. Rejeki bukan cuma uang. Seluruh alam semesta ini rejeki."

-kuliah ditutup dengan hamdallah-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar