Selasa, 01 Februari 2011

Dan Inilah Shinkansen Kami....

Suatu malam selepas Maghrib di angkot Ciawi, dalam perjalanan dari kampus menuju PPMKP Deptan di Ciawi, menjelang pengupayaan pencapaian kolektif secara nasional dalam lokakarya ke-VI MITI Mahasiswa:

Suci: "Mbak, besok kita mau ngapain sih?"
Me (mikir... hm... gak boleh menjelaskan dengan cara biasa, harus ada sedikit "efek" dramatis nih!):
"Mm.. Gini Ci, kamu tau kereta Shinkansen kan?"
Suci: "He-eh"
Me: "Nah, ada shinkansen, ada juga kereta ekonomi. Trus ada lagi tuh, kereta kelas bisnis sama eksekutif..."
Suci: @_@
Me: Hehehe... Kenapa mukamu gitu? Itu cuma analogi. Makd=sudku, kondisikampus-kampus di Indonesia ya kayak kereta-kereta itu, ada yang kelas Shinkansen, tapimasih ada juga yang kelas ekonomi. Perkembangan lembaga keilmiahannya juga kayak gitu. Yang punya design sama mesin kayak Shinkansen pastinya akan nyampe lebih dulu. Kalo yang ekonomi... kondisi mesinnya wallahu'alam, kalo ada kereta kelas bisnis atau eksekutif mau lewat jalur yang sama kayak dia, pasti dia harus berhenti dulu, nunggu kereta yang kelasnya lebih tinggi lewat, makanya dia nyampe belakangan terus... Nah buat memediasi kondisi ini, para pemillik, masinis, sama teknisi kereta-kereta itu ngumpul, siapa tau ada mekanisme manajemen, atau hal-hal teknik terkait Shinkansen yang bisa dipelajari atau diadaptasi sama kereta ekonomi ini"
(dalam hati saya nambahin, "Jelas gak mungkin diadopsi begitu saja, apalagi dalam waktu singkat... Memang selayaknya targetan kerja jamaah dicapai secara bertahap ^^)
Suci: Hmm... I see. briefing awal yang bagus mbak ^^

Sungguh, pada waktu mengatakan analogi ini, semuanya keluar begitu saja, gak pake kelamaan mikir atau 'eee...' kepanjangan. Tapi sungguh, tak disangka, kamilah yang dianggap sebagai Shinkansen itu di lingup nasional. Dan kini kami pulang, kembali merambah kampus, menjalankan lokomotif Shinkansen itu.
Karena Shinkansen pun perlu selalu dirawat dengan perawatan yang lebih rumit dari kereta biasa... agar performa mesin dan elemen lain di dalamnya tetap optimal. Bismillah. Tiada daya dan upaya selain dari-Mu.
Selanjutnya, tugas kami adalah mengembangkan kereta-kereta yang lain, agar secara bertahap, entah sampai kapan, bisa menjadi seperti Shinkansen yang sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar