Sabtu, 30 Oktober 2010

Tentang Wanita dan Cinta

Akhir2 ini saya agak kebingungan menghadapi pertanyaan teman2 (khususnya kaum Adam) yang kadang iseng nanya, "Kenapa sih wanita tu susah dimengerti?"

Haha... Kenapa ya?

Ada yang bilang karena wanita itu lebih dominan feelingnya daripada logikanya.

Apa iya ya? Halah... wong yang kayak saya tu lebih dominan logikanya daripada feelingnya.

Jujur sih, saya sendiri ga bisa jawab pertanyaan di atas. Pasalnya, saya sendiri ga terlalu bisa ngertiin makhluk yang namanya wanita. Jangankan orang lain, orang sama diri sendiri aja kadang saya bingung.

No way! Ini bukan karena saya ga kenal sama diri sendiri, tapi memang yang namanya wanita itu.... ga tau kenapa ya, moodnya cepet banget berubah.

Sebenarnya pengalaman saya soal 'feeling' sungguh sangat terbatas (lebay...), tapi saya cukup suka memperhatikan teman2 saya, apalagi yang katanya lagi fall in love! Haha...

Memperhatikan mereka, saya membenarkan sebuah penuturan yang menyatakan bahwa jika wanita mencintai seseorang, itu akan menjadi hal yang tidak mudah baginya. Bagi wanita pilihan itu berarti banyak hal, siap tersakiti, siap menangis, dan siap menyimpan semuanya dalam palung hati terdalam.

Coba perhatikan ungkapan di bawah ini,

"Mencintai seseorang bukan hal yang mudah.
Bagi sebagian orang, mencintai orang merupakan proses yang panjang dan melelahkan."

Lelah ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak seimbang antara akal sehat dan nurani.
Lelah ketika kita harus menuruti akal sehat untuk berlaku normal meski semuanya menjadi abnormal.
Lelah ketika pikiran menjadi galau oleh harapan yang tidak pasti.
dan seterusnya...................................



Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..

Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.


Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,
lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.
Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak.



Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal
Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk mengatakan "Aku mencintaimu"
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan "aku baik – baik saja"
Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.

Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..
Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..
Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..



Membacanya bait demi bait saja membuat saya lelah, apalagi menuliskannya, dan tentu saja, apalagi kalau merasakannya. Saya bukannya takut menghadapi hal-hal sensitif seperti ini. Tidak, saya tidak takut, dan saya juga tidak berminat repot-repot menghindar. Saya tak pernah berminat menghindari masalah, fakta, maupun kenyataan apapun.

Satu saja pesan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan dengan judul ini, bahwa bagi wanita, kelelahan terbesarnya adalah pada sisi manusiawinya, yaitu perasaan. Dan tentang perasaan cinta bagi wanita, memilih untuk mengungkapkannya sesuai kutipan sebuah pernyataan yang lebih indah namun tidak memanjakan, lembut namun gagah,

"Cinta adalah energi, yang membuat sang pencinta memiliki tatapan pinta pada Rabbnya. Pandangan kasihnya jatuh jua ke retina cinta, takkan berpaling selamanya. Lalu senyumnyapun merekah, mekar dari kuncup cinta. Bahkan dikala tangis, ia menimba luhnya dari mata air cinta. Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta menjadikan pengecut jadi pemberani, yang bakhil jadi penderma. Si bodoh jadi pintar, mempertajam pena para pengarang, mendatangkan kegembiraan dalam jiwa dan perasaan."

Oh, ini bukan sesuatu yang melankolis saya rasa, hanya sedikit penekanan, agar selamanya wanita menjadikan perasaan sebagai alasan yang menyerap habis energi mereka. Agar justru dengan sebuah titik kelelahan yang disebut perasaan itulah, wanita menjadi kuat.

*ditulis dengan cinta, karena katanya penulis yang menulis dengan cinta bisa membuat tulisannya lebih hidup, jadi mengapa tidak sekalian menulis tentang cinta? hahaha...

2 komentar: