Kamis, 04 November 2010

Adik-adikku Sayang...

Satu kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan bagi seorang manusia adalah mendapat anugerah menjadi sesosok "kakak"...
Kebahagiaan ini unik, menyenangkan. Dan adik-adik yang manis itu... Ah, mereka adalah sumber inspirasiku, salah satu sumber kebahagiaanku.

Aku bahagia ketika mereka datang padaku dalam kondisi apapun. Aku bahagia mendengar cerita-cerita mereka. Tentang mata kuliah-mata kuliah, ujian yang susah, dosen yang ramah, kisah kawan dan sahabat, dan sebagainya, hingga tentang kehidupan paling pribadi mereka. Aku bahagia mendengar keluhan-keluhan mereka, tapi bukan berarti aku bahagia atas apa yang mereka keluhkan. Aku hanya... merasa berguna karena bisa ada untuk mereka.

Aku senang ketika mereka datang padaku membawa seulas senyuman dan sepotong kabar gembira, "Mbak, aku berhasil begini..." atau, "Mbak, aku mau nyoba peluang ini nih mbak, doain ya..."
Atau bahkan ketika mereka datang padaku dengan sorot mata muram dan segepok curhatan tentang kesibukan dan masalah sehari-hari, aku tetap bahagia.

Aku tersenyum bahagia membaca sms kalian, "Mbak, kok aku ngerasa nggak semangat ya?" atau "Mbak, pengen konsultasi, mbak besok sore ada waktu? Pengen ketemu mbak... Di kosan mbak juga gak papa deh... Atau aku telpon mbak ya?" atau, "Mbak pengen minta saran nih..."
Sungguh, kalian membuatku merasa benar-benar ada.

Ah, aku cinta kalian adik-adikku sayang. Lillah... Tak lengkap rasanya jika tak ada cerita kalian di tiap-tiap hari yang berganti.

Kalian membuatku menjadi lebih cerdas, atau bahkan terpaksa menjadi cerdas! Pertanyaan-pertanyaan kalian itu... kadang tak terpikirkan olehku, tapi justru itu membuatku belajar lebih banyak, lebih dalam, lebih lama... Dan setiap hal itu membuatku makin banyak berinteraksi dengan hal-hal baru.


Adik-adikku sayang, mengeluhlah... Sampaikan keluhanmu selama telinga ini mampu mendengarnya. Percayalah, aku bisa merasakan yang kalian rasakan adikku sayang... Percayakan semua kisahmu padaku selagi kalian bisa percaya...

Bahkan aku takkan keberatan jika kalian menangis di bahuku. Seperti yang pernah dilakukan seorang adikku dulu, ketika merasa kecewa dengan diri sendiri dan keadaan sekitar.

Menangislah adik-adikku, jika memang menangis itu merupakan bagian dari proses pendewasaan diri kalian. Menangislah semaumu, jika dengan menangis kalian akan jadi semakin tangguh. Air mata kalian terkadang bukan untuk disembunyikan, karena mungkin itulah semangat yang terpendam.

Aku percaya, tangis kalian, keluhan-keluhan kalian, bukanlah karena kemanjaan dan egoisme semata. Maka adikku, tagan ini, mata ini, telinga ini, dan hati ini akan terus kubiarkan terbuka untuk kalian. Datanglah kapanpun kalian ingin datang, meski hanya ini yang bisa kuberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar