Rabu, 17 November 2010

Moon Over My Obscure Little Town

Stranger
Stranger
Someone stranger

Standing in a mirror
I can't believe what I see
How much love has been taken away from me?

My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud

Afraid
Afraid

I'm so afraid
of losing someone I never have
Crazy, oh, crazy
Finding reasons for my jealousy

All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obscure little town
As long as I can remember
Love has turned to be as cold as December

The moon over my obscure little town
The moon over my obscure little town

(Andrea Hirata - dalam Padang Bulan)

Di buku Cinta dalam Gelas, saya paling suka frase ini:
"Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati."
"Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku."
Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.

Benar-benar romantisme yang sederhana. Oh, tenang saja, saya tidak sedang melankolis sama sekali kok. Ya, sepertinya saya memang bukan orang yang melankolis. Tapi, saya menyukai cara-cara yang sederhana dan cenderung pragmatis. Dan menurut saya, penggambaran di atas sangat tepat untuk menjabarkan tentang "kebahagiaan yang sederhana". Idealis dalam orientasi, pragmatis dalam eksekusi.

3 komentar:

  1. you know girl, some people say that what she said (wrote) is what she thought n feel.
    hehehe..
    i know what you thought and what you feel, hehe

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus